Sajian kuliner tradisional, tidak hanya kaya akan citarasa. Di setiap sendoknya terdapat kenikmatannya, ada juga nilai-nilai budaya serta cerita yang menarik. Kelebihan tersebut justru menambah daya tariknya. Termasuk pada kuliner Solo. Ada yang tahu, bahwa Nasi Liwet khas Solo ternyata sudah tertulis di Serat Centhini sejak 1819? Nah! Itu adalah salah satunya. Penasaran dengan cerita kuliner Solo yang lain? Simak yuk!

1. Tengkleng, Sudah Ada Sejak Abad 19

Tengkleng merupakan olahan khas Solo berisi tetelan, jeroan dan bagian-bagian kepala kambing yang banyak dicari oleh wisatawan yang sedang berkunjung ke Solo. Tapi, tahukah Teman Traveler, bahwa olahan Tengkleng ini ternyata punya sejarah yang memilukan? Jadi, pada abad 19 lalu, daging kambing hanya boleh dinikmati oleh para Kaum Priyayi, bangsawan Solo dan orang Belanda.

Kaum pekerja dan tukang masak, hanya memperoleh bagian-bagian sisa seperti tulang-tulang kambing, kambing, sampai jeroan. Sisa-sisa daging tersebut kemudian diolah dengan rempah-rempah hingga menjadi sajian yang layak dimakan. Dari sanalah Tengkleng lahir. Sampai kini, kuliner Solo satu ini justru jadi makanan yang punya banyak penggemar.

2. Bentuk Perlawanan Terhadap Feodal dalam Seporsi Sate Kere

Jika Teman Traveler datang ke Solo lalu menyantap Sate Kere, jangan heran kalau rasanya tidak seperti daging ya. Sate Kere memang bukan terbuat dari daging seperti pada umumnya. Masakan khas Solo ini terbuat dari gembus atau ampas tahu. Ketika masa penjajahan, sate daging hanya bisa dinikmati oleh para bangsa kolonial. Sate Kere dibuat sebagai bentuk pertahanan masyarakat Solo di tengah himpitan serba sulit yang terjadi di masa lalu. Cerita kuliner Solo yang satu ini juga tidak kalah memilukan ya, Teman Traveler?!

3. Selat, Makanan Khas Solo dengan Pengaruh Budaya Eropa

Di zaman penjajahan dulu, ada sebuah kuliner dari Belanda bernama Biesftuk. Ia merupakan olahan daging yang disajikan bersama aneka sayuran seperti kacang polong, wortel dan kentang. Makanan Londo ini kemudian diadopsi oleh masyarakat Pribumi di wilayah Jawa dengan beberapa penyesuaian. Kuliner yang terpengaruh budaya Eropa ini kemudian dikenal dengan nama Bistik Jawa atau dengan nama lain Selat Solo. Maka dari itu, sepintas, sajian Selat Solo mirip-mirip dengan steak yang biasa disajikan di Eropa sana ya.

4. Nasi Liwet, Kelezatannya Tertulis di Serat Centhini dari 1819

Cerita kuliner Solo yang satu ini, legendaris sekali. Bagaimana tidak, namanya tercatat di Serat Centhini dari 1819. Menurut Ahli Gastronomi Indonesia, Murdijati Gardjito, Liwet merupakan proses memasak yang sangat tua. Nasi Liwet tidak pernah absen dalam acara-acara agama dan budaya yang digelar oleh masyarakat Solo, seperti Dhahar Rasulan dan Midodareni. Nasi Liwet biasa disajikan bersama sambel pecel, krupuk kulit sapi dan ingkung ayam jago.

5. Pengaruh Bangsa Arab dan Gujarat di Setiap Tusuk Sate Buntel

Siapa di sini Teman Traveler yang hobi sekali menyantap sate? Sate Buntel asli Solo wajib coba kalau begitu! Kuliner Solo yang satu ini juga punya sejarah identitas yang menarik. Daging kambing yang akan diolah menjadi Sate Buntel, dicincang halus dengan tambahan bumbu-bumbu, kemudian dibuntel menggunakan lemak, setelah itu baru dibakar. Olahan daging ini konon mendapat pengaruh dari kebudayaan Bangsa Arab dan Gujarat di kawasan Surakarta yang kerap mengolah kebab.

Berbagai cerita kuliner Solo dengan kebudayaannya, adalah bagian dari Indonesia yang harus dilestarikan. Tidak hanya kenyang perut dan lidah, Teman Traveler juga turut menjaga budaya bangsa. Keren, kan?! Pastinya!

Sumber : travelingyuk.com